Sabtu, 29 Mei 2010

B.E.N.C.I

Haruskah aku mencintanya
Bila hanya berikan duka
Sepertinya aku bahagia
Satu sisi aku menangis
Aku pernah sangat berharga
Saat mata memujaku
Sampai kau datang dalam hidupku
Segalanya berubah

Reff:

Kau mengambil hatiku
Jadikannya kelabu
Kau menghancurkan semua impian
Yang tersimpan sejak dulu
Kau racuni cintaku
Hingga menjadi benci
Tak lelah aku setia
Tersiksa sendiri

Betapa inginku berlari

Dan terlepas dari dirimu
Tapi semakin aku mencoba
Aku ingin kembali

Kembali ke Reff:

Kau mengambil hatiku
Jadikannya kelabu
Kau hancurkan
Segala impian
Haa...aa...a...

Minggu, 16 Mei 2010

Sebelum....Berfikirlah

 dari adek saya yang tak lelah mengingatkan saya dengan caranya...........

Sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kita mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum mengeluh tentang teman,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidupnya.

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Sebelum kita mengeluh bahwa kita buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Pikirkan tentang seseorang yang harus menahan sakit yang dideritanya seumur hidup atau seseorang meninggal terlalu cepat.


Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Allah bahwa kita masih hidup !

Rabu, 12 Mei 2010

Sekedar Harap

Wasting time, mungkin dua kata itu yang telah saya lakukan. Saya ingin menghabiskan waktu saya dengan penuh manfaat bukan tersia begitu saja. Tapi semua sudah tinggal keinginan, sudah terlalu banyak yang tidak brmanfaat dalam waktu saya walaupun pastinya ada manfaat lain yang tidak saya sadari, tapi apalah gunanya jika semua kewajiban saya abaikan begitu saja? Jika amanah tak lagi terjaga? Jika rasa takut murka Allah juga tak ada? Rabb, di sisa waktu yang mungkin tinggal beberapa detik saja atau malah mungkin beberapa abad lamanya jauhkan hamba dari rasa malas dan dan sifat buruk lainnya, biarlah jika saya harus terus melulu menjadi setan di mata orang-orang apalagi teman saya asalkan Kau sajalah yang tau saya menyembunyikan amal shaleh itu di balik topeng setan itu saja bukan menjadi hamba yang berkostum malaikat, melontarkan kalimat-kalimat berilmu, berbobot, tapi ternyata kalimat itu jauh lebih jahat jika terlontar begitu saja tanpa makna dan situasi yang tepat. Rabb, di sisa waktu yang saya tidak tau kapan terhentinya hamba mohon dengan sepenuhnya semua yang hamba lakukan tetap sesuai dengan yang Kau inginkan. Hamba mohon beri hamba kesempatan untuk menjadi penyelamat kedua orang tua hamba, papa mama (air mata ini selalu menetes jika mengetik kata-kata itu) 

Senin, 10 Mei 2010

Senin di Lab TPP

Pagi-pagi saya sudah siap, rapi, wangi, dan penuh semangat baru. Entah sejak kapan saya sudah lama tak seperti ini. Terlalu lama saya hidup dalam kotak 3x4 meter persegi ini. Saya usahakan tiba di tempat teman saya tepat waktu, meminjamkan apa yang bisa saya pinjamkan, dan menepati janji untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah saya. Saya berweekend bersama kawan saya, sahabat saya, saudara saya, bahkan mungkin jiwa saya, banyak hal yang saya pelajari di weekend yang singkat itu. Saya bangun lagi, saya hidup kembali, saya bernafas lega kembali, dan saya yakin tidak boleh malas lagi. Saya berhenti mati suri. Sekarang saya di sini menatap layar dan menikmati alunan merdu printer yang sedang bekerja memberikan saya jurnal yang saya butuhkan. Laboratorium TPP ini masih tetap sama seperti dulu, tidak pernah berubah, tidak pernah berhenti memberikan semua yang saya butuhkan di sini. Hanya saya saja yang mungkin kurang menyadari itu dan saya terus menyalahkan diri saya selama ini. Lab. TPP ini, dan saya masih di sini akan tetap di sini sampai saya mampu mengatasi diri ini.........

Selasa, 04 Mei 2010

Teruskan Saja


Beberapa bulan yang lalu ketika nilai semester ganjil keluar saya benar-benar yakin bahwa saya tidak akan mendapatkan nilai yang baik, apalagi ketika nilai-nilai itu mulai dikeluarkan di dalam portal akademik civitasa yang tentunya bisa saya akses di manapun walaupun saya sedang berlibur sekalipun. Benar ternyata bahwa yang terjadi itu akan sesuai dengan yang diyakini, nilai-nilai akademis yang saya dapatkan bebar-benar buruk dan mengenaskan saat itu. Sayapun hanya bisa terpaku terdiam dan mengutuk diri sendiri. Banyak sms dari teman-teman yang bertanya, “Sebenarnya ada apa dengan kamu rin??? Apa km sedang dalam masalah yang amat sangat harus mengganggu konsentrasi belajarmu? Apa yang kmu gk bisa Rin sampe nilaimu jadi seperti itu??? Apa ada yang  bisa aku bantu??” Begitulah kira-kira sms yang masuk ke hpku saat itu. Ketika air mata selalu jadi hidangan pendamping setiap masalah satu teman mengatakan, “Mi (panggilan sayang dari orang2 yang saya sayang di kampus), IP itu Cuma buat orang sakit jiwa!!!!!” Kalimat itu yang bikin air mata yg mau membabibuta surut seketika, Thanks Nduk.
Apa hubungannya hal tadi dengan hari ini?? Ya, hari ini saya mengingat kembali semua yang saya lakukan, saya ingat kembali yang telah saya pelajari, dan yang terakhir saya ingat kemballi pelajaran dari film yang saya tonton beberapa minggu yang lalu dari sebuah film yang cukup banyak digemari, 3idiots.  Saya hanya perlu mencintai apa yang saya lakukan seperti yang dulu pernah saya lakukan dan saya tidak boleh kecewa dengan semua hasil yang saya terima. Allah itu akan memberikan apa yang saya butuhkan bukan apa yang saya inginkan, saya hanya sedang tidak tau apa yang saya butuhkan. Maka dari itu saya perlu bangkit dan menjalani jalan yang sempat terkoyak ini.
“Give me some sunshine,
Give  me some rain,
Give me another chance and,
I wanna grow up once again...”  (Give me some sunshine, 3idiots)

Senin, 03 Mei 2010

Jika Belum Siap Cintailah Dalam Diammu


Dari seorang sahabat yang selalu setia mengingatkan wlaupun terpisah jarak ribuan kilometer.
Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...
ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?
dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...
jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...
biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

Waktu saya masih bocah saya senang berlari, mengejar layang-layang,ke kampung belakang takut ditinggal maen kelereng, lari dari gerbang sekolah TK sampai ke rumah sambil menarik kotak bekal saya yang saya anggap sebagai mobil-mobilan sampai tu kotak bekal lama-kelamaan lecet parah. Semua pelarian itu saya lakukan dengan senang hati, dengan hati gembira, tertawa-tawa tanpa beban apapun. Senang sekali rasanya. Akhir-akhir ini mungkin sudah dua tahun saya berlari. Lari dari semua tanggung jawab saya sebagai anak, sebagai mahasiswa, sebagai teman, sebagai seorang kakak, dan yang lebih parah sebagai hamba Allah yang harus taat. Sampai suatu hari ada yang bilanng padaku, “Gk capek apa kamu lari-lari terus?” Saya tidak mengerjakan semua dengan baik, dengan maksimal yang saya mampu, bahkan saya tinggalkan begitu saja. Saya lari, saya tak sanggup menghadapi, saya lebih tak sanggup lagi mendengar cercaan yanng keluar hingga saya terus saja berlari. Dan ternyata pelarian saya terlalu jauh, amatlah jauh. Tapi demikian, saya sedang berusaha mencari jalan pulang dari pelarian ini karena pelarian seperti ini sama sekali tak membuat saya bahagia, saya tidak berlari dengan senang hati kali ini. Andai saya masih bocah............